Sabtu, November 12, 2011

Sang Penari”, Potret Awam Korban Pergumulan Elit

Untuk bisa menangis, orang tidak perlu menunggu menjadi demokratis, liberalis, sosialis, komunis, atau agamis.....”

Salut buat Ifa Ifansyah dan kru film “Sang Penari”, yang mengetengahkan kisah apik, walaupun mengaku “hanya” terinspirasi dari Trilogi Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” nya Ahmad Tohari. Kisah yang mungkin, tidak akan tersaji ketika Film wajib tonton Pemberontakan G 30 S/PKI masih tampil di TVRI setiap tahun, ketika Jendral Besar Soeharto dan para loyalisnya yang disebut Golkar , PNS dan ABRI “males” diungkit ungkit masa lalunya karena alasan stabilitas, ketika mereka bertikai dengan Sukarno dan para pemuja serta penjilatnya.

Dua Presiden RI itu bapak bangsa, mereka berjasa besar membangun bangsa ini, mereka telah membawa bangsa kepada sebuah fase tertentu kemajuan, namun, khususnya pada sekitar tahun 1965, mereka juga tidak bisa cuci tangan begitu saja karena tangannya pernah berlumuran darah rakyat atas pilihan-pilihan politiknya, dan juga karena ulah para penjilatnya.......

“Sang Penari” mengetengahkan tentang “kasih tak sampai” dua anak manusia dari peradaban “Banyumasan” yang kadang dialeknya sering menjadi bahan olok olokan ketika berada di pusat peradaban pewaris Mataram, Jogja atau Surakarta dan daerah pengaruhnya. Kisah daerah pinggiran yang “terlahir awam” dan menjadi korban karena ketidakberdayaan mereka keluar dari keawaman mereka. Kisah ketika para “orang pandai dan bersenjata ” bertikai dan mengorbankan mereka yang awam.

Setiap janin tidak bisa lahir memilih orang tuanya. Demikian juga Rasus dan Srintil yang terlahir di kampung miskin, menganut ritual leluhur, dengan mitos “prostitusi suci” yang disebut ronggeng. Mereka menjadi pasangan remaja saling mencinta yang rumit. Srintil terobsesi “mengabdi” menjadi ronggeng. Rasus patah hati dan menjadi tentara. Keduanya terjebak dalam dua kubu yg berhadap-hadapan secara politik.

Tersaji kisah bagaimana seorang laki-laki yang tak berdaya melindungi perempuannya dari rengutan budaya ronggeng yang “ternyata” manipulatif, kearifan lokal ttg tafsir atas “tubuh perempuan pilihan leluhur” yang menjadi hagemonik karena mendudukkan elit dukun ronggeng menjadi penafsir tunggal yang tak bisa dibantah dan memiliki imunitas untuk melabrak nurani, nurani tentang kedaulatan perempuan dengan tubuhnya , hak reproduksinya dan cintanya. Dan kisah tentang ketegaran dan ketabahan seorang perempuan yang menerima konsekuensi - konsekuensi atas relasi kuasa yang berlaku atas dirinya, tubuhnya, masa depannya

Dan tergambar juga ternyata “sedikit kaum agama” , terwakili dari seorang tentara yg taat shalat, tidak bisa melindungi mereka, bahkan tidak punya pilihan lain kecuali menjadi alat elit pemenang revolusi untuk membersihkan mereka, yang kebetulan karena keawaman mereka, menjadi bagian dari orang-orang kalah yang harus terbunuh baik nyawa maupun masa depan anak cucunya karena stigmatisasi sebagai “liyan” , “komunis” yang sejatinya kalau sedikit saja kita mau belajar, tidak bisa selalu diartikan sebagai mereka yang sesat.

Film ini mengajak bangsa ini belajar untuk pintar menempatkan semua masalah pada tempatnya masing-masing. Kepentingan, politik, tafsir atas kebenaran ideologi atau (bahkan) agama seharusnyalah tidak boleh melabrak begitu saja suara hati. Bukankah suara hati setiap manusia itu sama ? bukankah setiap manusia terlahir lengkap dengan bisikan suci tentang kebenaran ? bukankan untuk bisa menangis seseorang tidak perlu menunggu menjadi bagian dari penganut ideologi apa, agama apa, partai politik apa ?

Salut buat aktor dan aktris pemerannya. Keren..., Slamet Raharjo yg jadi dukun Ronggeng, Lukman Sardi yg jadi orang partai komunis, Tyo Pakusadewo yg bener bener jadi orang lain, dan juga Oka Antara dan Prisia Nasution

Film ini mengajak anak bangsa apakah mau sejenak merenung dan kemudian kembali belajar mendengar nurani untuk memperbaiki masa depan bangsa ini ? Tidak mengulangi kesalahan-kesalahan bapak bangsa dimasa lalu.

Atau terus menjadi manusia yang mencari aman dengan terus berlindung dari kebenaran “leluhur”, atau kembali bertanya kepada nurani ?

Gusti Allah ora sare, Tuhan menghidupkan nurani seiring dengan ditiupkannya ruh pada setiap janin. Untuk bisa menangis, orang tidak perlu menunggu menjadi demokratis, sosialis, komunis, atau agamis.....


Producer: Shanty Harmayn

Director: Ifa Isfansyah

Writers: Salman Aristo, Shanty Harmayn, Ifa Isfansyah

Casts: Nyoman Oka Antara, Prisia Nasution, Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Landung Simatupang, Hendro Djarot, Happy Salma, Teuku Rifnu, Tio Pakusadewo, Lukman Sardi

0 komentar:

Loading...