Loading...

Jumat, Januari 02, 2009

Traitor : Perjalanan Psikologis Seorang Muslim Teroris


DVD ini sudah lama kusewa, tapi baru sempat kutonton ketika pulang ke rumah kemarin. He.he.. sebualn terakhir ini memang kondisi menjadi lain, yang tadinya setiap hari, bahkan 24 jam sehari hidup bersama teman-teman sekarang kulalui sendiri dengan proyek-proyek pribadi. Hidup terasa lebih lelah, setelah pulang ke kos langsung tidur .Atau mungkin karena selama ini lebih banyak tidur di kantor..jadi setelah kembali menjadi penghuni kos badan bener bener pengen terus lengket dengan kasur begitu masuk kamar. Emm.. apapun lah, intinya fim Triator ini jadi tidak sempat tertonton.

Tidak disangka, Film ini bagus. Bagaimana tergambar perjalanan psikologis seorang muslim teroris yang terus bergulat mencari 'kemauan Islam' dalam merespon ketidak adilan yang dilakukan Amerika Serikat. Film ini menarik dan menambah daftar film berlatar belakang terorisme (oleh Muslim) pasca runtuhnya WTC. Hem.. terkadang memang sebagai muslim merasa jengah juga, mengapa tema-tema begini selalu saja menjadi tema film, seakan tidak ada tema Film tentang muslim yang menarik Holywood yang lain. Namun kalau mau jujur, film-film ini seharusnya dianggap menjadi alat berdialog antara ke-Islaman para Muslim dengan realitas anggapan barat selama ini.

Secara umum, kekuatan cerita film ini mirip film The Kite Runner. Keduanya berhasil menggambarkan kehidupan muslim yang berinteraksi dengan keyakinan dirinya, dengan masyarakat barat, dengan dunia muslim (sayangnya masih timur tengah... padahal ada banyak muslim di Asia Tenggara juga) dan juga dengan isu-isu ketidak adilan global dan terorisme.

Tersebut Samir Horn (Don Cheadle.. nominasi Oscar dalam Hotel Rwanda), seorang mantan tentara khusus Amerika Serikat di Afghanistan yang menjadi bagian dari aksi terorisme di beberapa negara yaitu Sudan, Spanyol, Prancis dan Amerika Serikat. Dia dikejar seorang agen FBI Roy Clayton (Guy Pearce) hingga terjadi beberapa kali drama psikologis antara 'teroris' dan 'petugas negara' itu yang menurutku cukup berhasil mengeksplorasi sisi emosional interaksi keduanya. Horn bergabung dengan kelompok teroris dengan keahlian merakit bom. Namun dia punya idealisme walaupun Amerika harus dilawan, namun tidak perlu dengan mengorbankan nyawa manusia, termasuk pelaku bom bunuh diri. Disinilah film dibuka dengan bergabungnya Horn ke kelompok teroris di Sudan dengan usulan Bom yang tidak menggunakan martir. Ketika pembicaraan terjadi, markas teroris itu digrebek pemerintah sudan bersama FBI dan kemudian mereka dipenjara khusus teroris. Interaksi dipenjara kemudian menjadi menarik dimana Horn dituduh oleh pimpinan teroris bernama Omar (Said Taghmaoui.... pemain di Kite Runner dan Vantage Point..) sebagai yang menyebabkan mereka ditangkap. Tergambar bagaimana Horn dikucilkan sehingga harus Shalat sendirian sementara di sisi penjara lain Omar dan kawan-kawannya berjama'ah. Namun kemudian mereka berhasil mengatasi kesalahfahaman dan kemudian mereka bersepakat untuk melarikan diri dan menjalankan rencana-rencana teror ke beberapa negara . He.he. Cerita Film kemudian berlanjut mirip Prison Break dan juga Trilogi Bourne( Halah... lagi-lagi pengen tak bandingkan dengan Film ini...he.he...). Perjalanan dari kota ke kota, dari negara ke negara dengan aksi teror dan rekruitmen relawan tergambar. Tergambar juga di Film ini bagaimana struktur organisasi teroris, dimana ada pemikir, ada tentara ada komandan yang memang memegang peran berbeda.

Namun adegan yang menurutku cukup terasa emosional bagi muslim adalah ketika Samir dan Omar bertemu Farid (Aly Khan...), seseorang yang disebut pemimpin mereka di Paris. Disini terjadi dialog makna Thaqiyya yang mereka lakukan dalam perjuangan ketika Farid menawarkan mereka meminum anggur (alkohol...khamr..) bersama. Omar dan Samir menolak karena menurut mereka ini bukan bagian dari strategi. Sedangkan Farid yang menjadi pemimpin mereka selalu memberikan argumen logis. Argumentasi berdasarkan pesan Rasulullah SAW pun tergambar verbal, bahkan lebih verbal dibanding dialog ketika Fahri menerangkan tentang Hak Suami Memukul Istri dalam Ayat Ayat Cinta. Silahkan nikmati adegan ini.... menurutku sangat bagus menjadi cermin kita yang muslim ketika berinteraksi dengan 'artefak' peradaban barat dan pilihan-pilihan strategis serta pembenaran-pembenaran teologisnya.

Adegan yang menurutku cukup membuat tertohok bagiku adalah ketika Samir membuat bom, memasang dan meledakkan sendiri Bom di Konsulat Amerika di Paris (atau kota lain.. sorry lupa). Setelah bom meledak, kemudian kelompok Samir, Omar, Farid dan beberapa anggota lainnya memberi selamat kepad sahamir, sambil menonton TV berita peledakan dengan korban meninggal 18 orang. Disitu Samir berkomentar “ Kok Hanya 18 Orang...?”. Namun setelah di kamar dia kemudian merapal istighfar dan shalat serta menangis. Ternyata dalam aksi itu Samir punya informan seorang agen intelejen amerika juga yang salah memberi informasi bahwa pada saat itu kedung konsulat seharusnya libur. Disinilah terlihat bagaimana Samir benar-benar merasa bersalah karena aksi teror melawan Amerika itu harus memakan korban manusia.

Di akhir cerita, terjadi lagi bagaimana Samir harus berada di dua sisi yang menjepitnya, dalam teror di jantung Amerika Sendiri. Disinilah kata-kata seperti yang dikatakan Imam Samudra sebagai pembenaran aksi pengeboman yang mengakibatkan terbubuhnya orang sipil terkatakan disini. “Rakyat Amerika Serikat Harus menanggung Kesalahan Pemerintahnya”. Disinilah kemudian persahabatan, penghianatan, agama, kemanusiaan harus berdialog dan harus melakukan pemihakan. Disnilah kemudian menurutku Film ini cukup berhasil mengangkat bagaimana repotnya menjadi Muslim di era ini dimana keyakinan bahwa aksi 'Terorisme Negara' yang dilakukan Amerika Serikat di Iraq, Afghanistan tetap harus dilawan. Namun disisi lain agamanya juga menuntun bagaimana menghormati perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan.

Sekian dulu. Sebenarnya banyak banget adegan lain yang menurut menarik untuk diapresiasi. Seperti interaksi Samir dengan Clayton, Farid yang Hipokrit, Samir dengan 'Si Cantik' Archie Panjabi ( ingat dia dalam The Mighty Heart ?) dan juga dialog filosofis Samir dan Omar. Namun tentunya menjadi tidak seru kalau diceritakan semua. Tonton saja deh...:)

1 komentar:

kanahegoz mengatakan...

Kayaknya menarik filmnya. Apa ada lagi film2 yang sejenis ini? Trus apa ini based on s true story? Klo nggak, dapet darimana ya org2 amerika itu skenario kayak gini? hehehe...