Loading...

Selasa, Desember 23, 2008


Sequel James Bond kali ini kerasa garing. Gambaran ditektif kebanggaan orang Inggris yang ‘nyaris’ disersi ini sepertinya ingin mengajak penonton melanjutkan rasa emosionalnya setelah di sequel sebelumnya berakhir dengan Bond yang patah hati. Untuk memahami alur ceritanya penonton harus menonton sequel sebelumnya, karena kalau tidak menonton akan kesulitan mengerti siapa Vesper dsb.

James Bond digambarkan sebagai agen patah hati yang selalu dianggap oleh M (Bossnya di M16) selalu membunuh karena masih terbawa sakit hatinya kehilangan agen ganda yang menjadi kekasihnya dalam kisah sebelumnya yang menurutku memang sangat seru sekaligus emosional. Padahal dia membunuh karena memang tidak ada pilihan lain (kalau tidak membunuh akan dibunuh). He..mungkin beginilah repotnya jadi laki-laki patah hati, setiap ada keributan dalam pekerjaannya yang sejatinya profesional murni selalu dikait-kaitkan dengan emosi yang tidak stabil.

Adegan pembuka cukup seru. Kejar-kejaran. Tembak-tembakan sambil gelantungan. He.. tapi sayangnya inilah satu-atunya adegan paling seru. Karena adegan kelahi, kejar-kejaran, tembak-tembakan setelah ini tidak ada yg sedramatik ini. Ada sih adegan yang sepertinya kalau berhasil akan menarik dimana ada adegan tembak-tembakan, kelahi dan kejar-kejaran di belakang panggung opera yang juga bunuh-bunuhan. Namun kok rasanya aku ngeliatnya gak nyaman. Tergambar kurang serasi sepertinya.

Terlepas dari itu, sepertinya memang film-film superhero sekarang coba membawa sang superhero menjadi manusia biasa. Seperti dalam Batman atau Superman terbaru. Para superhero ini ’dipaksa’ menjadi seorang laki-laki yang kehilangan perempuannya, dan kemudian mengalami krisis kepribadian dalam bertugas ketika dia bertugas. He..he. mungkin ini sejalan dengan trend lagu-lagu Band cowok di Indonesia yang tiba-tiba menjamur dan bernyanyi dengan tema-tema ’memelas’, ’mengemis cinta’ dsb. Ha..ha. mungkinkah laki-laki edisi terakhir memang terlahir dengan ’software’ se-Mellow ini ? he..he... Padahal lagu-lagu dangdut sudah lama mendahului seperti Termiskin di Dunia atau Sepiring Berdua....

Kembali ke Film ini, mungkin saja aku menganggap film ini hambar karena terlalu menikmati bagaimana dramtiknya sequel james bond sebelumnya. Atau mungkin karena banyak terpengaruh dengan film semacam ini seperti Bourne Ultimatum yang menurutku berhasil menyuguhkan film dengan tempo cepat yang pas. Atau mungkin kubandingkan dengan ketika menikmati Batman.

Oh ya... ketika dibandingkan Batman, tokoh antagonis ’ Dominique Green’ jadi tidak ada apa-apanya dengan karakter Joker. Bener.. kurang nakal keliatannya.

Kalau gak percaya... tonton deh :)

0 komentar: