Loading...

Selasa, Desember 23, 2008

3D3C: Catatan Akhir Sekolah Versi Pesantren


Pernah nonton catatan akhir sekolahnya Hanung Bramantyo..? Apa yang keinget ? Perasaan senasib menjalani masa SMA sebagai siswa tidak populer ? Menjadi siswa yang pusing memikirkan eksistensi ? Perasaan ketika cinta remaja terasa ? Ketakutan akan masa depan ? Atau masalah keluarga ?

Nah, di Film 3 Do'a 3 Cinta kali ini kisah serupa versi pesantren salaf ( baca : tradisional) terjadi. Tiga santri bernama Huda, Syahid dan Ryan di sebuah pesantren di Yogyakarta, tepatnya di daerah Kasihan Bantul berseting tahun terjadinya tragedi WTC. Mereka sedang menanti saat saat akhir di pesantren, dengan bimbingan Kyai Wahab. Nah, memang di sini kenakalannya tidak akan sama dengan catatan akhir sekolah sebagai entitas modern (bahkan kalau teringat dimana Hanung sekolah, bisa dikatakan wakil entitas sekolah Islam modern- sub urban yang cukup ku kenal).

Disini tergambar kenakalan santri seperti membolos kalau malam untuk sekedar merasakan makanan di warung luar pondok, menonton layar tancep, jalan ke pasar malam atau bahkan 'menambah ilmu' dengan mengaji ke rumah Kyai Lain walaupun berseberangan 'ideologi'. Namun lucunya salah satu orang dari santri itu mirip yang terjad di CAS, yaitu terobsesi dengan kamera, bahkan di akhir cerita terobsesi membuat FIlm (walaupn berawal dari tukang shoting manten). Nah bicara cita-cita, di 3D3C ini berhasil memahami kelayakan santri-santri di Jawa yang memang tidak banyak bercita untuk berkuliah, atau menjalani profesi yang sering khalayak anggap 'profesional'. Bahkan tergabar karena berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, tidak satupun terucap dari para santri itu keinginan untuk berkuliah. ( Gimana mau berfikir kuliah, punya radio di kamar saja bisa disita...). Memang tergambar mereka juga bersekolah di Aliyah, namun cita-cita mereka sederhana. Huda ingin mencari ibunya yang pergi ke Jakarta. Ryan ingin meneruskan studio foto ayahnya dia Surabaya. Dan Syahid ingin mati 'Syahid' karena frustasi (Nah lo.... apa mungkin bisa mati Syahid kalau dasarnya putus asa...... lha wong Islam ngelarang putus asa........?).

Oke....bagi yang belum pernah melihat kondisi keseharian pesantren tradisional, film ini cukup bisa menggambarkan. Bagaimana cara santri dan kyai hidup, berrelasi dan sebagainya. Bagaimana bentuk kamar santri yang jauh dari kesan layak. Mungkin bagi kalangan yang berasal dari Muhammadiyah akan langsung menuduh bentuk visualisasi pesantren ini "NU Banget", khususnya dalam fiqh ibadah yang diprsktekkan maupun bentuk adat keseharian mereka. Tergambar juga paradoks yang terjadi. Seorang anak pelacur yang dititipkan ke pondok ini. Pelecehan seksual seorang ustadz kepada santri, praktik dan alasan poligami para kyai, hingga bentuk tradisi pewarisan pengurusan pesantren.

Nah.. cerita menjadi menarik ketika ketiga santri itu punya dilema masing-masing. Huda (kok tetep kebayang sosok rangga, joni dan gie yang dimuka Nicholas Saputra.. gak bisa lepas) bertemu dengan Dona Satelit (Dian Sastro....he.. sejatinya karena ada orang ini aku semangat nonton film ini di hari pertama pemutaran. Dian cukup bisa lepas menjadi penyanyi dangdut kampung, matre dan 'lenjeh' ....terkesan murahan....). Huda minta tolong kepada penyayi dangdut pasar malam itu untuk mencari ibunya di Jakarta. Tergambar cukup natural bagaimana seorang santri bertemu dengan dunia 'nyata', perempuan dan juga cinta.

Ryan (Yoga Pratama...he....... kebayang jaman dia masih maen di Filmnya Warkop) cukup menarik menjadi santri yang terobsesi sama kamera dan film yang mempertemukannya dengan seorang bos Film layar tancap (Butet Kartarajasa) dan Sahid yang masuk ke jaringan 'Islam garis keras' karena benci kepada Yahudi-Israel dan Amerika. Pesan besar film ini agaknya ingin mengkomunikasikan kepada khalayak bahwa Islam itu dalam tataran nyata punya banyak varian..

Secaaara umum Film ini layak diapresiasi. Film ini layak menjadi sebuah tertimoni terhadap peradaban manusia yang berlaku sekarang.Flm yang suatu saat akan sangat kita buktikan ketika ada orang non Islam bertanya tentang Islam Indonesia.

Sepertinya film ini bagus karena seperti sangat personal pada diri Nurman Hakim sang sutradara......

0 komentar: