
Menonton Nim’s Island bareng Joan dan Mat, temen baru bule yg aku ngomong sama bereka banyakan pakai bahasa isyarat, jadi pengalaman yg menarik. Menarik karena emang baru pertama nonton bareng bule, dan menarik karena filmnya yg menurutku cukup mengena. Tentang rahasia seorang anak.
Bagiku, walaupun film ini ditonton tidak hanya anak-anak, namun ceritanya memang mengajak kita sejenak mengingat mimpi mimpi masa kecil. Dan konflik yang kemudian terbangunpun khas… bercerita bagaimana khayalan anak kecil ketika dunia rahasianya terusik, bagaimana kemudian dia sok dewasa untuk menghadapinya sendiri, bagaimana dia harus membuktikan kepada orang dewasa bahwa dia bisa menyelesaikan masalahnya, dan dia kemudian ketika terdesak dia berharap ada superhero mau menolongnya…..
Dalam Nim’s Island pakem ini terbangun dengan cantik. Nim…, sosok anak yang mungkin memiliki kehidupan seperti banyak anak sekarang khayalkan. Hidup dipulau rahasia, berkawan dengan hewan-hewan, punya bapak seorang ilmuan hebat, namun punya koneksi internet tak terbatas dari pondok di tengah hutan yang di support energinya dengan solarcell, dan bisa memesan novel kesayangannya setiap edisi baru terbit melalui pos setelah memesannya via internet (padahal pulau itu rahasia..he..he…. impian anak emang selalu saja paradoks….termsuk film anak Indonesia Petualangan Serina).
Namun, seperti biasa, karena Film ini dibuat orang dewasa, maka pesan untuk mngajari penonton tentang makna hidup juga termasuk dalam film ini. Pesan moral yang muncul di film ini tentang cinta seorang ayah kepada anaknya, tentang perlunya membiarkan lingkungan tetap asli tanpa dirusak modernisasi membabi buta akibat komersialisasi (tergambar dari kapal pesiar yang menemukan pulau itu dan kemudian diusir Nim bareng teman-teman hewannya), cerita tentang kesetiakawanan, dan yang paling mengena adalah pesan tentang bagaimana menjadikan semua hayalan itu menjadi kenyataan.
Di film ini, terjadi konflik personal di diri Alexandra Rover (Jodie Foster), seorang penulis novel sukses petualang-hero Alex Rover , Novel langganan Nim, yang ternyata hanya hidup di depan komputernya, bahkan untuk sekedar keluar rumah mengambil surat di halaman rumahnya saja dia ketakutan. Namun, naluri kemanusiaannya diuji ketika Nim mengirim email bahwa dia butuh ditolong Alex Rovel karena terancam dan sendirian.
Dunia nyaman asosial Alexandra Rovel terusik, dan kemudian tergambar bagaimana Alexandra harus mengalahkan bayangan yang terbangun dalam dirinya tentang dunia di luar rumahnya. Dia harus melakukan perjalanan dari amerika ke sebuah kepulauan pasifik. Sempat dia mampir ke sebuah bandara di Kalimantan yang lengkap dengan promosi wisata Indonesia, bahkan promosi Jogja (he..he. walaupun sebentar… namun kok aku ngerasa bangga yah.. Indonesia sedikit masuk di Film ini.. ). Yang kemudian dengan pesawat kecil dia terus terbang mendekati pulau itu, yang harus didekatinya dengan Helicopter dan kemudian dengan Boat. (Yah,.. jangan terlalu banyak bertanya tentang logika kejadian ini yah..he.he., lhat saja acting Jodie Foster yang tetep keren di film ini…).
Namun, sampai di pulau itu, Alexandra ditolak oleh Nim karena yang dia undang bukan Alexandra Rover yang penakut, dan lemah. Namun, seorang Alex Rover yang berani mencoba hal baru, petualang, tidak perlu ditolong orang dan berbagai karakter yang biasa terbangun dalam karakter superhero. Pelajaran bahwa kita harus menjadi hero dalam cerita kita, atau kita harus menghadapi kenyataan dan menikmatinya sepertinya menjadi point penting yang ingin disampaikan film ini.
Film ini, sekali lagi memang film cerita yang ingin membawa kita kembali kedunia anak-anak. Dunia ceria.. dunia yang membuat orang dewasa selalu kangen.. dunia yang setiap manusia ingin berlalu dengan sempurna….., namun sayang banyak orang dewasa sok tau yang merusak dunia anak-anak dengan pemaksaan, kekerasan, bentakan, eksploitasi, batasan-batasan yang mengekang.
0 komentar:
Poskan Komentar