Loading...

Minggu, Juni 08, 2008

May : “Film Untuk Para Laki-Laki Egois”

Hem… sorry kalau judul review ini jadi personal banget.. tapi begitulah yang terlintas dalam otakku sesaat setelah Film yang ditonton tidak lebih dari 7 orang di Studio 3 21 Amplaz itu selesai. Film ini perempuan banget dan Indonesia banget. Film ini terasa “perempuan banget” dan seperti ditujukan kepada laki-laki egois dengan idealismen dan cita-citanya. Hem….memang Film itu tidak menyebut satukatapun kata egois.. ..kata ini ku ingat terlontar dari Atin, temanku ketika berbicara dengan seorang teman laki-lakinya ”yg relawan bencana alam” ketika laki-laki itu berada di titik kritis antara cintanya, idealismenya, dan karirinya.

Film ini menceritakan tentang dua orang laki-laki yang ingin menebus kesalahan masa lalunya. Satunya bernama Antares (Yama Charlos) seorang sutradara Film Dokumenter yang kata Bos-nya (Tio Pakusadewo) bisa hidup dalam kemewahan, masih bisa membaca sastra, sambil tetap mengembangkan empati kemanusiaannya. Laki-laki yang lain bernama Ganang (Lukman Sardi), seorang beretnis jawa, bos usaha Laundry di Jogja yang siap berangkat Umroh.

Antares merasa berhutang ketika May (Jenny Chang) seorang gadis beretnis Tionghoa karena pada tahun 98 dia yang sedang membuat dokumenter aksi Mahasiswa 98 harus meninggalkan kekasihnya itu sehingga May ikut menjadi bagian dari tragedi 13 mei 2008. Dia diperkosa perusuh dan kemudian ditolong seorang warga ekspatriat dan kemudian hidup di Malaysia sebagai penyayi club. Sedangkan Ganang merasa berhutang kepada Ibu May yang ketika terjadi kerusuhan Mei 98 di Jakarta Ganang memanfaatkan keadaan menukar tiket pesawatnya dengan sertifikat rumah Ibu May yang juga butuh meninggalkan Jakarta dan pindah ke Malaysia.

Keterangan waktu yang dipakai Film ini adalah peristiwa Reformasi tahun 98 dan Kata-Kata yang menyiratkan bahwa kejadian yg lain terjadi sepuluh tahun kemudian (tahun ini.....2008). Dan walaupun selalu dikatakan dalam berbagai berita bahwa Film ini bukan Film Politik, namun sepertinya Film ini berhasil menjadi alat pengingat kita, warga negara Indonesia, bahwa bangsa kita telah berlaku tidak adil kepada saudara-saudara korban kerusuhan Mei 98 dengan tidak melakukan apa-apa padahal hingga sekarang tidak ada tindakan hukum yang dilakukan.

Film ini menjadi drama yang cukup menarik ketika mengetengahkan paradok yang terjadi ketika Antares yang idealis dan humanis (walaupun kurang kelihatan kecuali dari perkataan Tio Pakusadewo) harus menginkari janji menjemput kekasihnya beberapa jam yang kemudian membuat malapetakan yang selaam sepuluh tahun menghantui dia. Tergambar paradoks juga seorang Ganang yang hidup berkecukupan, akan naik haji ternyata menggunakan rizki yang ’tidak jelas’ karena memanfaatkan keadaan dengan ’memeras’ para pengungsi yang tidak punya daya tawar. Ditampilkan juga para paradoks seorang Istri Ganang yang ’matre’ dan suka pamer ternyata seorang yang cukup religius dan terus meneru smengingatkan harus menacari uang yang halal dan mendukung upaya suaminya untuk jatuh miskin lagi asal bisa membayar hutang masa lalunya. (Karena Ganang tidak pernah bercerita sebelumnya). Dan paradok lain adalah terjadi pada May...dimana dia diceritakan selama sepuluh tahun mendendam kepada Antares, pemerkosa dan dirinya. Dia menolak upaya Antares kembali ke kehidupannya dia karena kesalahan Antares juga karena dia merasa sudah kotor setelah pemerkosaan itu. Paradok-paradoks ini terjalin dalam rangkaian cerita maju mundur yang cukup bisa diikuti. Paradok lain juga tampil secara verbal dalam kata-kata ustadz penceramah selamatan keberangkatan Umroh Ganang dan Istri yang mengatakan bahwa keberhasilan Ganang dari pelayan Hotel menjadi Bos Laundry itu adalah wujud Reformasi....( lelucon getir yang cerdas). Paradoks juga terlontar ketika orang-orang Tionghoa yang terusir itu ketika diminta mengungsi mengatakan bahwa mereka sudah tinggal di tanah itu sejak nenk moyang mereka selama 200 tahun. (Sebuah penegasan bahwa mereka bukanlah orang asing lagi di negeri ini).

Akting Jenny Chan yang harus banyak menangis dan ”lipsing” menyanyi di kafe cukup bagus, walaupun menurutku masih kaku juga. Akting Yama Charlos di Film ini malah mirip Fuazy Baadilah. Tidak banyak ngomong....namun cukup kaku juga. Yah.. mereka cukup bagus ketika menggambarkan cerita ketika mereka pacaran, namun ketika muka menjadi murung dan menggambarkan seorang ’psyico’ sepertinya masih kurang mengena. Namun akting Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Tuty Kirana, Niniek L. Kariem, dan Ira Irawan cukup membuat Film ini enak ditonton.

Penggambaran tempat dimana cerita ini berlangsung masih kurang mengeena. Penggambaran Kuala Lumpur, Jakarta dan Jogja masih butuh penegasan sebenarnya . Walaupun menara petronas, kata-kata Jalan Gadjah Mada Terbakar (mungkin di sekitar Klender kampung pecinan ini... cuman aku gak ngerti persis apakah disana ada kampung pecinan) dan Candi Plaosan yang terlihat dari rumah Ganang adalah upaya-upaya untuk menunjukkan setting tempat cerita ini. (Pengambilan Candi Plaosan mengingatkan cerita Opera Jawa dimana rumah Siti menghadap Candi Plaosan yg seakan di tengah sawah).

Sempat di akhir cerita aku ingin tidak Happy Ending…. Dimana mungkin tidak perlulah semua harus berakhir bahagia.. sehingga semua berkumpul (seperti acara Ria Jenaka TVRI jaman dulu he.he.). Namun mungkin sebagai empati kepada kawan-kawan korban kerusuhan Mei 98, perlulah Film ini berakhir bahagia sehingga akhirnya mereka bisa pulang ke Jakarta dan dua pria bersalah itu bisa membayar hutangnya.

Akhirnya…. Seharusnya tanpa bermaksud merendahkan Film Ayat –Ayat Cinta, Presiden, Wapres, menteri-menteri, Jaksa-jaksa dan politisi kita menonton Film ini. Kalau selesai menonton mereka tidak menangis.. berarti tangisan ketika nonton AAC kemarin hanyalah tangisan para buaya...., apalagi kalau hatinya tidak tergerak untuk menuntaskan kasus kerusuhan Mei 98..... bisa menjadi penegasan bahwa mereka bagian dari kerusuhan itu.... (SBY waktu itu bawahan Wiranto, sebagai Asospol Mabes ABRI).

Wallahu alam....

Pemain :
Jenny Chang
Yama Carlos
Jajang C. Noer
Lukman Sardi
Niniek L. Karim
Tutie Kirana
Ria Irawan
Sutradara :
Penulis :
Dirmawan Hatta
Homepage :

0 komentar: