
Setelah Kite Runner dan Turtle can Fly, satu lagi film bertema anak-anak dan perang yang ditawarkan ‘mas penjaga’ Movie Box, The Children of Huang Shi. (Cerita ttg Film Turtle Can Fly.. belum tak buat). Film ini bertema tentang kisah nyata wartawan Inggris bernama George Hogg (Jonathan Rhys Meyers),tentara China bernama Chen Hansheng (Yun-Fat Chow), perawat 'dadakan' yang cantik dan pemberani bernama Lee Perason (Radha Mitchell) dan penyumbang perjuangan bernama Mrs. Wang (Michelle Yeoh). Mereka bekerjasama melindungi sekelompok anak yatim piatu di Huang Shi dari tentara Jepang pada Perang Dunia II di China.
Singkat cerita, Mr. Hogg seorang wartawan perang dunia II, yang menyusup dalam peperangan di Huang Shi dengan menyamar menjadi anggota palang merah. Dia hampir dipenggal tentanra Jepang karena memotret pembantaian penduduk Huang Shi, termasuk pembantaian anak-anak. Sesaat sebelum dipenggal, Chen Hansheng yang salah seorang pimpinan gerilyawan komunis membebaskan dia dan kemudian mengirimkan dia ke panti asuhan atas usul Lee Perason, seorang ‘perawat’ tidak resmi yang merawat korban perang, termasuk anak-anak panti asuhan. Mulanya Mr Hogg tidak menginginkan dirinya menjadi pengasuh. Namun setelah didesak oleh Lee, akhirnya dia mau. Dia memperbaiki generator, bercocok tanam dan bersama lee mengajari anak-anak memakai tepung anti kutu dan merapikan rambutnya, termasuk mandi. Lucunya, Hogg yang diawal kisah digambarkan Jago basket, alat permainan pertama yang dibangun adalah 'Ring Basket'. Disanilah kisah dimulai bagaimana repotnya mengasuh anak-anak korban perang, mirip panti asuhan di Fil Kite Runner dan teman teman ‘Si Satelite’ di Turtle Can Fly. Mungkin begitulah anak-anak ‘terbuang’ , mereka kadang ganas, kadang beringas, namun sejatinya mereka hanya menginginkan satu hal, perhatian. Merindukan satu hal, kasih sayang. Di akhir kisah, ketika Lee diajak Chen meninggalkan anak-anak karena dianggap sudah bisa ditinggal , Lee menjawab "Memang anak-anak sudah tidak membutuhkanku, namun sekarang akulah yang membutuhkan mereka..."
Kisah berlanjut hingga mereka harus melakukan ‘Long March’ untuk mencari daerah aman. Mereka harus menyusuri bukit, gurun hingga berperang dengan dinginnya salju. Akhirnya mereka harus meminta tolong tentara nasionalis (Tentaranya Chiang KaSek-Kuomintang). Padahal Chen Hansheng adalah gerilyawan Komunis. Oh ya sebelum Hogg dikirim ke panti asuhan, ada adegan ‘keren’, dimana Chen yang komunis dan bermusuhan dengan tentara Kuomitang mempertaruhkan nyawanya membebaskan tentara Kuomitang yang terjebak dalam gerbong kereta dan menjadi sasaran pemboman pesawat-pesawat pembom Jepang. ( Teringat film Indonesia seperti Serangan fajar, Lebak Membara ..jaman dulu..).
Lee, Hogg, Chen dan Mrs. Wang sempat terlibat dalam kisah cinta yang ribet. Lee yang simpat dengan Hogg yang ‘sok gak ngerti’ dan membuat jengkel Lee. Mrs. Wang yang bersimapti dengah Hogg. Hingga perhatian Chen kepada Lee (yg ternyata tiap hari harus minum opium untuk menghilangkan rasa sakitnya), yang kemudian memaksa Hogg untuk jujur. Ternyata sosok Chow Yun Fat yang ‘mature’ dalam sosok Chen inilah yang bisa meyakinkan Hogg tentang perasaan Lee (Walaupun ternyata di akhir Film Chen harus mengakui kalau dia juga ‘cinta mati’ kepada Lee yang Janda seorang tentara). Lee dan Hogg kemudian bahu membahu mengurus anak –anak panti asuhan ini. Namun kemudian Hogg meninggal karena Tetanus dan tidak tertolong. Disini ada adegan bagaimana ’heroiknya’ mencari serum yang bisa menyembuhkan Hogg.. dan gagal.
Film ini menampilkan gambar-gambar detail Perang Dunia Kedua lumayan bagus. Gambaran tentang 'kota hancur', tentang Serangan Udara, tentang pembantaian penduduk, Tentang anak-anak Cina berkutu. tentang beda sipitnya orang Cina dan orang Jepang (kalau ini membuktikan cerita Mahendra), dan juga bagaimana gambaran gurun dengan badai gurunnya. Chen yang Macho, Hogg yang pemberani tapi 'polos', Lee yang cantik dan pemberani. Mrs Wang yang elegan, serta anak-anak berkutu yang cukup natural ketika berkata.
Film ini , diakhiri dengan testimoni anak-anak panti asuhan yang saat Film ini dibuat masih hidup (Tentu saja sudah tua mereka). Memang, perang harusnya menjadi pilihan terakhir ketika kita harus mengakui kalau otak kita bebal dan bodoh.
Btw, teringat kata-kata Hogg ketika mengungkapkan rasa kepada Lee dengan ungkapan "Kamulah perempuan Tercantik dan Pemberani yang pernah kutemui dalam hidupku" aku berfikir : ”Indahnya kalau bertemu perempuan dengan ’kata hati’ tentang perjuangan dan mimpi yang sama. Hem…”
0 komentar:
Poskan Komentar