Senin, Desember 21, 2009

Sang Pemimpi : Kenapa Harus Mimpi ke Paris...?


“Hemm……” batinku dalam hati begitu Film ini selesai. Film dari Novel kedua Andrea Hirata ini sempat membuatku tidak puas. Bukan tidak puas karena tidak sama dengan Novelnya, atau penggambaran karakter yang kurang pas atau bagaimana. Tapi tidak puas karena “pesan besar” film ini tidak semudah ditangkap seperti dalam Film pendahulunya, Laskar Pelangi. Walaupun mungkin Idealisme Riri Reza (Sutradara), Mira Lesmana (Produser) dan Andrea Hirata (Pemilik Cerita) cukup tersalurkan dalam film ini.

Dalam Film – Film bersekuel seperti sekuel klasik Rambo, Rocky, Batman, Superman, Star Wars…atau model sekuel yg baru baru ini ada seperti Harry Potter, Transformer dan New Moon memang hampir mirip menurutku. Dalam film lepas tapi berseri begini (Baca : Bersekuel) kesuksesan Film pertama merupakan kesuksesan para Filmaker dalam menawarkan sesuatu yang baru kepada khalayak. Atau dalam konteks Film berbasis Novel yg booming seperti Laskar Pelangi, Hary Potter dan sejenisnya kesuksesan Film pertama adalah kesuksesan mengkomunikasikan impian publik dalam bentuk “harapan” visual. Nah… di Film kedua, model ini tidak berlaku lagi karena di film kedua biasanya keinginan publik sering terabaikan dan para pembuat Film cenderung lebih egois.

Repotnya definisi keinginan Publik di Film kedua bukanlah keinginan bahwa Filmnya sama dengan Novelnya lagi karena Publik sudah bertambah tidak sekedar yang tahu Novel tapi juga yg telah menonton Film pertama. Padahal di Film pertama sudah ada revisi dari Novel......

Disinilah masalah menurutku dalam Sang Pemimpi. Film ini menurutku gagal menghadirkan apa yang disebut mimpi itu. Cerita sudah menarik, penokohannya keren, visualnya keren juga, namun “benang merah” yang disebut mimpi itu sepertinya sulit tersembul sebagai passion. Mimpi adalah sesuatu yang melampaui realitas. Hal ini tergambar dalam Novel Andrea sebagai mimpi yang harus melampaui realitas kemiskinan yang dihadapi Arai, Ikal dan Jimbron dengan perjuangan mereka. Namun dalam bahasa Film kok sepertinya masih kurang gregetnya. Oh.. tepatnya.. visualisasi Paris, Sorbone dan Keliling Dunia yang menjadi mimpi mereka hanya terwakili dalam bahasa visual Peta yang dicoret-coret yang dibawa Arai. Entah….. motivasi Pak Balian (Nugie) sudah pas… tapi kok efek psikologisnya untuk bertransformasi menjadi passion tidak terjadi….. (He..he… mungkin terlalu personal bagiku).

Berbicara anatomi mimpi sebenarnya sudah cukup lengkap di Film ini. Ada pelaku (Arai, Ikal, Jimbron), ada Motivator (Pak Balian), ada Suplemen Motivator (Tradisi kata-kata motivasi para murid), ada yang apresiasi (Ibu dan Bapak Ikal), ada modal (dua kuda jimbron), ada proses (bekerja keras dari menimbang ikan hingga tukang foto kopi dan petugas pos), dan ada repetisi motivasi dengan penyebutan kata-kata Paris yang berulang-ulang. Hanya saja sepertinya bagi mereka yang tidak membaca novelnya dan tidak menonton Laskar Pelangi gambaran seberapa berharga mimpi pergi ke Paris bagi anak-anak kampung itu kurang terasa. Mungkin butuh banyak hal pendukung yang tidak perlu ditemukan dalam novel aslinya.

Pertanyaan apa pentingnya kalau bisa ke Paris... Mau jadi apa setelah ke Paris.... belum sepenuhnya tergambar dalam Film ini kecuali membuat bapak dan ibu ikal menangis....

Yah… secara umum Film ini keren. Penokohan, pemilihan pemeran, dialognya hingga acting mereka yang berlakon tanpa dialog dalam Film ini sangat bagus. Orang Indonesia patut berbangga dengan Sang Pemimpi….dan juga Laskar Pelangi.

Namun.. kita menantikan Edensor Film tidak akan sama dengan kita menantikan Edensor Novel dahulu (Bagi yg membaca Novelnya). Karena Edensor versi Film adalah Edensor Sekule dari Laskar Pelangi dan sang Pemimpi versi Film yang sudah ada perbedaan dari Novelnya.....

Btw…apakah kita akan menantikan Edensor yang berarti menantikan perjalanan keliling dunia Luqman Sardi dan Ariel …? Serius nih....? (Masih nggak rela kalo Ariel...ha..ha....)

Salam buat Ayah Nomer Satu di Dunia :)

Senin, Januari 19, 2009

Revolutionary Road : Egoisme Tragis Pasangan Romantis


Melihat Sampul DVD ini rasa mataku tertuju kepada pemainnya: Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet (Kayaknya lebih ke Kate Winsletnya deh :) ) Hem…. Jelas memoriku teringat dengan Ttanic, film jaman kelas 3 SMA yang kutonton dengan sangat dramatis . Kukatakan dramatis waktu itu karena Bioskop Empire 21 ( Udah Terbakar) memberlakukan antrian tiket untuk Film pada jam yang akan tayang, bukan seperti sekarang Film tayang malam bisa dibeli tiketnya siang atau sore hari. Dan karena waktu itu antrian di bisokop panjang banget….bahkan waktu itu aku nonton sama Mas Eko (He..he. gak seru banget.. mosok sama Cowok) pas sampai di depan loket, tiket tinggal 2 buah.. itupun tempat duduknya terpisah (Nah.. kalo ini tambah sengsara juga.. karena kanan kiriku semua pasangan..hik..).


Oke.. sekarang cerita ttg Film berjudul : Revolutionary Road ini (2008)

Sekali lagi, begitu melihat dua nama diatas, yang kuinginkan adalah melihat film romantis walaupun aku takut kalau berakhir seperti Titanic dimana kisah cinta yang diperankan pasangan ini berahir tragis. Aku tonton film ini ketika pulang kampung, dan waktu itu hasratku ingin berlibur, ditengah udara dingin (Dingin banget) lereng G. Perahu.. barat pasangan Sindoro-Subing.

Film ini diawalu setting Amerika Serikat tahun 1950-an, tergambar pasangan ganteng dan cantik (jelas lah...) bernama Frank Wheller dan April. Mereka mengangkat dua orang anak, Frank seorang pekerja kantor yang baik dan April seorang Ibu Rumah Tangga. Mereka tiba dalam sebuah situasi kobosanan dimana April merayu (lebih tepat ’meyakinkan’ mungkin) bahka kehidupan mereka itu harus lebih baik. April mengajukan berbagai argumentasi bahwa mereka harus pindah ke Paris untuk meninggalkan Ilusi dan menggapai kehidupan yang seharusnya.

Dialektika yang cukup cantik diperankan sepasang suami istri ini tergambar kemudian di Film ini. April ingin menjadi bintang dalam seni peran di Paris. Frank juga sudah mulai bosan. Setelah Frank sepakat untuk pindah, dan bahkan menkondisikan anak-anak mereka bahwa mereka akan pindah ke Paris. Kemudian mereka berpamitan dengan tetangga mereka Milly dan Shep Chambel. Namun ternyata ’ada sesuatu’ antara Shep Chambel kepada April. Semacam cinta lama yang terpendam.

Namun ketika siap-siap berangkat ke Paris, Frank mendapat promosi jabatan dikantornya. Polemik seru yang dimainkan mereka terjadi cukup menarik. Bagaimana Frank yang kemudian bersikeras untuk membatalkan kesepakatan pindah ke Paris dan April yang tetep mempertahankan keinginannya untuk pindah. Dalam perdebatan demi perdebatan akhirnya kata akhir mereka dimenangkan Frank. Disinilah April tergambarkan sebagai perempuan yang ’memendam ego’, demikian juga Frank. Bahkan perdebatan menjadi memuncak ketika Frank menemukan alat pengguguran kandungan di kamar mandi. Mereka berdebat tentang mengapa April memutuskan ttg tindakan itu sendiri, dan kemudian mereka berdamai.

Namun lagi-lagi langkah penyelesaian mereka tidak berujung pada penyelesaian bijak. Ketika mereka sepakat untuk melupakan masalah mereka dan mengajak pasangan Chambel ke Bar , April yang ’sedang malas’ kepada Frank meminta Frank mengantarkan Milly Chambel pulang, karena Milly mabuk. April yang begitu labil (dan karena selalu kalah berdebat dengan suaminya) kemudian curhat diakhiri dengan berdansa dengan Shep Chambel. Kemudian terjadilah ” One Night Stand” .

Besok paginya adegan paling seru dan paling menyedihkan terjadi. Perdebatan kedu suami istri ini tergambar dalam permainan karakter yang (menurutku) sempurna oleh Leonardo DiCarprio dan Kate Winslet. Mereka berdebat tentang kesetiaan, pengakuan perselngkuhan...dan akhirnya dalam emosi tinggi mereka saling berteriak, memekik bahwa sejatinya mereka tidak cinta dan saling membenci. Hem.. adegan ini cukup lama... tapi menurutku cukup menguras emosi....

Nah.. akhirnya... pemaknaan Cinta antara keduanya tergambar nyaris bisu dalam akhir Film yang diadaptasi dari novel Richard Yates ini. Frank tertidur menyesali perdebatan, termasuk April yang lari keluar rumah. Nah.. kalau di Titanic akhirnya Leonardo DiCaprio (Jack Dawson) mati tenggelam dan Kate Winslet (Rose De Witt) hidup, dalam Film ini kisah itu dibalik. Kate (April) mati karena pendarahan (mungkin) karena melakukan pengguguran kandungan sendiri...... hem.. gak ngerti ini pembuktian cinta....semacam Penyucian Diri... atau keputus asaan. Lima menit clossing film ini menjadi semacam tragedi atas nama Cinta yang manis.. (tapi tetep saja tragis .....).

He.. tak akui acting pasangan ini keren.. gak rugi aku sampe bohong ma polisi di Polres Kendal pas ngurus SIM A kemarin kalau KTP ku lupa kubawa.. dan yang kubawa hanya fotokopi-nya saja . Padahal ya buat jaminan pinjem DVD ini....

# Lima hari ini mataku bengkak, tapi bukan karena nonton film ini he.he...kata gindah kelebihan Protein ..mosok..?

http://www.revolutionaryroadmovie.com/

Minggu, Januari 18, 2009

Under The Tree : Perempuan Bermasalah dalam Ruang Lahir - Mati


He.. berangkat di hari pertama pemutaran Under The Tree nya Garin jelas penasaran ma ‘bentuk’ perempuan garin terbaru. He.he. karena memang beginilah Film-Film Garin… selalu saja bercerita tentang kompleks-nya perempuan dalam setting berbagai budaya yang berbeda. Dan mungkin kalau orang-orang arab yang melihat Film-Film Garin.. mereka akan melihat Keindahan Jannah (Surga) seperti yang tergambar dalam berbagai narasi keagamaan yang selama ini mereka mengerti yang diwakili keindahan alam Indonesia ( tentu saja lengkap dengan perempuan cantiknya itu..).

Disamping itu, menonton Film Garin di Bioskop adalah barang mewah di Jogja.. karena Filmnya tidak mungkin bertahan lama pemutarannnya…. ( sepi penonton).. sedangkan kalau gak di tonton di bioskop.. Film Garin jarang yang kemudian keluar dalam bentuk CD, atau seandainya adapun sangat tidak nyaman ditonton di DVD Player di rumah…………… apalagi make layar computer.

Dalam Under The Tree muncul perempuan-perempuan bermasalah dalam bentuk kecantikannya sendiri-sendiri, dengan setting keindahan Bali. Wanita pertama Marcella Zalianti sebagai Maharani yang menggugat eksistensinya karena merasa dibuang oleh ibunya yang ‘hanya’ penari. Seorang anak adopsi yang mencari asal usulnya dalam simbol kalung ari-ari. Perempuan kedua adalah Dewi.. (Ayu Laksmi..dulu konon Roker…) yang sepanjang Film berada dalam dilema apakah akan menggugurkan atau meneruskan kehamilan bayi yang setelah uji USG di diagnose dokter bahwa bayi itu otaknya tidak terbentuk, menggugurkan atau menggugurkannya yang menjadi Film ini menarik. Dan perempuan ketiga adalah Nian.. (Nadhira Saphira), seorang anak manja, anak konglomerat yang ditahan KPK, mencari ‘identitas’ hidup..

Selain ketiga perempuan itu adalagi perempuan –perempuan lain dengan masalhnya sendir sendiri. Ada perempuan-perempuan hamil yang bekerja (dan ternyata terlibat sindikat perdagangan manusia). Ada seorang dokter perempuan yang sekaligus penari dengan problemnya. Ada seorang perempuan yang merasa terbuang karena dia berbadan gemuk dan item bernama Soka.. ( Diperankan Aryani Kiergenburg Willems ..pantas kalo dapat piala citra....). He...he. ..karakter laki-laki yang terbagun di Film ini jadi parade para laki-laki lemah , kecuali sosok yang dibawakan Ikranagara. Dwi Sasono sebagai laki-laki traumatis. Kaler seorang (Penari ?) pengantar penari dengan motor besarnya. Atau sosok polisi –polisi yang tergambar kebusukannya dengan jelas…. ( he.. belum ada Film Indonesia yang menggambarkan heroism Polisi… selalu saja tergambar Polisi yang Cacat).

Menurutku.. scene-scene dalam fragmen-fragmen yang terkadang terkesan tidak tuntas dalam bercerita (ala Film Garin) mampu membuat pesan yang dibawa Film ini menjadi banyak wajah, walaupun tetap ada pesan umum yang menjadi landasan. (Dan aku yakin masing-masing penonton akan medapat kesimpulan yang berbeda-beda..). Dalam pandangan pribadiku. Pesan terkuat dalam Film ini adalah bagaimana hubungan Ibu dengan Anaknya…………… baik dalam proses ‘menjelang’ menjadi ibu (Hamil… dalam cerita Dewi). Ketika Ibu menyerah digugat anaknya (dalam cerita Maharani)… Ketika Ibunya menjadi trauma ‘cinta’ anak laki-laki Oedipus (dalam cerita yg diperankan Dwi Sasono) … atau ketika Ibu harus menjual anaknya, harus memperjuangkan anaknya (dalam kisah maling susu), ibu yang memilih berepisah dengan anaknya ( dalam kisah Gandari Kurawa yang mejadi tema salah satu tari) atau dalam bentuk seorang anak yang tidak mendapati sosok ibu sejak kecil.. (dalam cerita Nian)…… Kesemuanya tergambar pecah-pecah bagaikan perca yang terjahit dengan gaya khas Garin…. Dan jahitan itu memilih kain dasar Alam Budaya Bali.. yang tentu saja tergambar oleh Garin dalam keindahan yang sering dibenturkan dengan artefak abad modern seperti motor besar Kaler, nyayian Dewi…
Ketika memunculkan kisah yang dibawa Ikranagara…mungkin juga Garin ingin membingkai pesan-pesannya dalam ruang manusia dimana manusia itu memulai dari kelahiran.. menjadi pelukis kehiduan (dengan mentato..) .. terus mati dalam kesiapan level tinggi untuk mati…..

Jumat, Januari 02, 2009

Traitor : Perjalanan Psikologis Seorang Muslim Teroris


DVD ini sudah lama kusewa, tapi baru sempat kutonton ketika pulang ke rumah kemarin. He.he.. sebualn terakhir ini memang kondisi menjadi lain, yang tadinya setiap hari, bahkan 24 jam sehari hidup bersama teman-teman sekarang kulalui sendiri dengan proyek-proyek pribadi. Hidup terasa lebih lelah, setelah pulang ke kos langsung tidur .Atau mungkin karena selama ini lebih banyak tidur di kantor..jadi setelah kembali menjadi penghuni kos badan bener bener pengen terus lengket dengan kasur begitu masuk kamar. Emm.. apapun lah, intinya fim Triator ini jadi tidak sempat tertonton.

Tidak disangka, Film ini bagus. Bagaimana tergambar perjalanan psikologis seorang muslim teroris yang terus bergulat mencari 'kemauan Islam' dalam merespon ketidak adilan yang dilakukan Amerika Serikat. Film ini menarik dan menambah daftar film berlatar belakang terorisme (oleh Muslim) pasca runtuhnya WTC. Hem.. terkadang memang sebagai muslim merasa jengah juga, mengapa tema-tema begini selalu saja menjadi tema film, seakan tidak ada tema Film tentang muslim yang menarik Holywood yang lain. Namun kalau mau jujur, film-film ini seharusnya dianggap menjadi alat berdialog antara ke-Islaman para Muslim dengan realitas anggapan barat selama ini.

Secara umum, kekuatan cerita film ini mirip film The Kite Runner. Keduanya berhasil menggambarkan kehidupan muslim yang berinteraksi dengan keyakinan dirinya, dengan masyarakat barat, dengan dunia muslim (sayangnya masih timur tengah... padahal ada banyak muslim di Asia Tenggara juga) dan juga dengan isu-isu ketidak adilan global dan terorisme.

Tersebut Samir Horn (Don Cheadle.. nominasi Oscar dalam Hotel Rwanda), seorang mantan tentara khusus Amerika Serikat di Afghanistan yang menjadi bagian dari aksi terorisme di beberapa negara yaitu Sudan, Spanyol, Prancis dan Amerika Serikat. Dia dikejar seorang agen FBI Roy Clayton (Guy Pearce) hingga terjadi beberapa kali drama psikologis antara 'teroris' dan 'petugas negara' itu yang menurutku cukup berhasil mengeksplorasi sisi emosional interaksi keduanya. Horn bergabung dengan kelompok teroris dengan keahlian merakit bom. Namun dia punya idealisme walaupun Amerika harus dilawan, namun tidak perlu dengan mengorbankan nyawa manusia, termasuk pelaku bom bunuh diri. Disinilah film dibuka dengan bergabungnya Horn ke kelompok teroris di Sudan dengan usulan Bom yang tidak menggunakan martir. Ketika pembicaraan terjadi, markas teroris itu digrebek pemerintah sudan bersama FBI dan kemudian mereka dipenjara khusus teroris. Interaksi dipenjara kemudian menjadi menarik dimana Horn dituduh oleh pimpinan teroris bernama Omar (Said Taghmaoui.... pemain di Kite Runner dan Vantage Point..) sebagai yang menyebabkan mereka ditangkap. Tergambar bagaimana Horn dikucilkan sehingga harus Shalat sendirian sementara di sisi penjara lain Omar dan kawan-kawannya berjama'ah. Namun kemudian mereka berhasil mengatasi kesalahfahaman dan kemudian mereka bersepakat untuk melarikan diri dan menjalankan rencana-rencana teror ke beberapa negara . He.he. Cerita Film kemudian berlanjut mirip Prison Break dan juga Trilogi Bourne( Halah... lagi-lagi pengen tak bandingkan dengan Film ini...he.he...). Perjalanan dari kota ke kota, dari negara ke negara dengan aksi teror dan rekruitmen relawan tergambar. Tergambar juga di Film ini bagaimana struktur organisasi teroris, dimana ada pemikir, ada tentara ada komandan yang memang memegang peran berbeda.

Namun adegan yang menurutku cukup terasa emosional bagi muslim adalah ketika Samir dan Omar bertemu Farid (Aly Khan...), seseorang yang disebut pemimpin mereka di Paris. Disini terjadi dialog makna Thaqiyya yang mereka lakukan dalam perjuangan ketika Farid menawarkan mereka meminum anggur (alkohol...khamr..) bersama. Omar dan Samir menolak karena menurut mereka ini bukan bagian dari strategi. Sedangkan Farid yang menjadi pemimpin mereka selalu memberikan argumen logis. Argumentasi berdasarkan pesan Rasulullah SAW pun tergambar verbal, bahkan lebih verbal dibanding dialog ketika Fahri menerangkan tentang Hak Suami Memukul Istri dalam Ayat Ayat Cinta. Silahkan nikmati adegan ini.... menurutku sangat bagus menjadi cermin kita yang muslim ketika berinteraksi dengan 'artefak' peradaban barat dan pilihan-pilihan strategis serta pembenaran-pembenaran teologisnya.

Adegan yang menurutku cukup membuat tertohok bagiku adalah ketika Samir membuat bom, memasang dan meledakkan sendiri Bom di Konsulat Amerika di Paris (atau kota lain.. sorry lupa). Setelah bom meledak, kemudian kelompok Samir, Omar, Farid dan beberapa anggota lainnya memberi selamat kepad sahamir, sambil menonton TV berita peledakan dengan korban meninggal 18 orang. Disitu Samir berkomentar “ Kok Hanya 18 Orang...?”. Namun setelah di kamar dia kemudian merapal istighfar dan shalat serta menangis. Ternyata dalam aksi itu Samir punya informan seorang agen intelejen amerika juga yang salah memberi informasi bahwa pada saat itu kedung konsulat seharusnya libur. Disinilah terlihat bagaimana Samir benar-benar merasa bersalah karena aksi teror melawan Amerika itu harus memakan korban manusia.

Di akhir cerita, terjadi lagi bagaimana Samir harus berada di dua sisi yang menjepitnya, dalam teror di jantung Amerika Sendiri. Disinilah kata-kata seperti yang dikatakan Imam Samudra sebagai pembenaran aksi pengeboman yang mengakibatkan terbubuhnya orang sipil terkatakan disini. “Rakyat Amerika Serikat Harus menanggung Kesalahan Pemerintahnya”. Disinilah kemudian persahabatan, penghianatan, agama, kemanusiaan harus berdialog dan harus melakukan pemihakan. Disnilah kemudian menurutku Film ini cukup berhasil mengangkat bagaimana repotnya menjadi Muslim di era ini dimana keyakinan bahwa aksi 'Terorisme Negara' yang dilakukan Amerika Serikat di Iraq, Afghanistan tetap harus dilawan. Namun disisi lain agamanya juga menuntun bagaimana menghormati perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan.

Sekian dulu. Sebenarnya banyak banget adegan lain yang menurut menarik untuk diapresiasi. Seperti interaksi Samir dengan Clayton, Farid yang Hipokrit, Samir dengan 'Si Cantik' Archie Panjabi ( ingat dia dalam The Mighty Heart ?) dan juga dialog filosofis Samir dan Omar. Namun tentunya menjadi tidak seru kalau diceritakan semua. Tonton saja deh...:)

Selasa, Desember 23, 2008

3D3C: Catatan Akhir Sekolah Versi Pesantren


Pernah nonton catatan akhir sekolahnya Hanung Bramantyo..? Apa yang keinget ? Perasaan senasib menjalani masa SMA sebagai siswa tidak populer ? Menjadi siswa yang pusing memikirkan eksistensi ? Perasaan ketika cinta remaja terasa ? Ketakutan akan masa depan ? Atau masalah keluarga ?

Nah, di Film 3 Do'a 3 Cinta kali ini kisah serupa versi pesantren salaf ( baca : tradisional) terjadi. Tiga santri bernama Huda, Syahid dan Ryan di sebuah pesantren di Yogyakarta, tepatnya di daerah Kasihan Bantul berseting tahun terjadinya tragedi WTC. Mereka sedang menanti saat saat akhir di pesantren, dengan bimbingan Kyai Wahab. Nah, memang di sini kenakalannya tidak akan sama dengan catatan akhir sekolah sebagai entitas modern (bahkan kalau teringat dimana Hanung sekolah, bisa dikatakan wakil entitas sekolah Islam modern- sub urban yang cukup ku kenal).

Disini tergambar kenakalan santri seperti membolos kalau malam untuk sekedar merasakan makanan di warung luar pondok, menonton layar tancep, jalan ke pasar malam atau bahkan 'menambah ilmu' dengan mengaji ke rumah Kyai Lain walaupun berseberangan 'ideologi'. Namun lucunya salah satu orang dari santri itu mirip yang terjad di CAS, yaitu terobsesi dengan kamera, bahkan di akhir cerita terobsesi membuat FIlm (walaupn berawal dari tukang shoting manten). Nah bicara cita-cita, di 3D3C ini berhasil memahami kelayakan santri-santri di Jawa yang memang tidak banyak bercita untuk berkuliah, atau menjalani profesi yang sering khalayak anggap 'profesional'. Bahkan tergabar karena berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, tidak satupun terucap dari para santri itu keinginan untuk berkuliah. ( Gimana mau berfikir kuliah, punya radio di kamar saja bisa disita...). Memang tergambar mereka juga bersekolah di Aliyah, namun cita-cita mereka sederhana. Huda ingin mencari ibunya yang pergi ke Jakarta. Ryan ingin meneruskan studio foto ayahnya dia Surabaya. Dan Syahid ingin mati 'Syahid' karena frustasi (Nah lo.... apa mungkin bisa mati Syahid kalau dasarnya putus asa...... lha wong Islam ngelarang putus asa........?).

Oke....bagi yang belum pernah melihat kondisi keseharian pesantren tradisional, film ini cukup bisa menggambarkan. Bagaimana cara santri dan kyai hidup, berrelasi dan sebagainya. Bagaimana bentuk kamar santri yang jauh dari kesan layak. Mungkin bagi kalangan yang berasal dari Muhammadiyah akan langsung menuduh bentuk visualisasi pesantren ini "NU Banget", khususnya dalam fiqh ibadah yang diprsktekkan maupun bentuk adat keseharian mereka. Tergambar juga paradoks yang terjadi. Seorang anak pelacur yang dititipkan ke pondok ini. Pelecehan seksual seorang ustadz kepada santri, praktik dan alasan poligami para kyai, hingga bentuk tradisi pewarisan pengurusan pesantren.

Nah.. cerita menjadi menarik ketika ketiga santri itu punya dilema masing-masing. Huda (kok tetep kebayang sosok rangga, joni dan gie yang dimuka Nicholas Saputra.. gak bisa lepas) bertemu dengan Dona Satelit (Dian Sastro....he.. sejatinya karena ada orang ini aku semangat nonton film ini di hari pertama pemutaran. Dian cukup bisa lepas menjadi penyanyi dangdut kampung, matre dan 'lenjeh' ....terkesan murahan....). Huda minta tolong kepada penyayi dangdut pasar malam itu untuk mencari ibunya di Jakarta. Tergambar cukup natural bagaimana seorang santri bertemu dengan dunia 'nyata', perempuan dan juga cinta.

Ryan (Yoga Pratama...he....... kebayang jaman dia masih maen di Filmnya Warkop) cukup menarik menjadi santri yang terobsesi sama kamera dan film yang mempertemukannya dengan seorang bos Film layar tancap (Butet Kartarajasa) dan Sahid yang masuk ke jaringan 'Islam garis keras' karena benci kepada Yahudi-Israel dan Amerika. Pesan besar film ini agaknya ingin mengkomunikasikan kepada khalayak bahwa Islam itu dalam tataran nyata punya banyak varian..

Secaaara umum Film ini layak diapresiasi. Film ini layak menjadi sebuah tertimoni terhadap peradaban manusia yang berlaku sekarang.Flm yang suatu saat akan sangat kita buktikan ketika ada orang non Islam bertanya tentang Islam Indonesia.

Sepertinya film ini bagus karena seperti sangat personal pada diri Nurman Hakim sang sutradara......

Twilight : Kisah Vampire Romantis dalam bungkus Metroseksual


Begitu melihat tampilan Vampire dalam film kali ini aku teringat Vampire ala Buffy yang berkisah seputaran Vampire remaja dengan segala permasalahannya. Vampire sebagai entitas 'mahluk antah berantah' ternyata tetap menarik untuk dieksplorasi dalam berbagai setting dan sisi, disamping kisah misterinya sebagai mahluk abnormal yang menanti kiamat dan masuk ke neraka karena banyak berdosa yaitu memakan manusia.

Dalam Twilight kali ini, sepertinya penonton dianggap telah mengetahui apa itu Vampire, sehingga tidak banyak keterangan tentang entitas dengan kriteria tertentu. Hanya yang menarik, Vampire-Vampire kali ini tampil dalam balutan gaya Metroseksual, ganteng, cantik, terawat, modis, bermobil Volvo dan doyan bermain baseball. Dan settingnya memang cerita cinta tidak biasa yang mempertemukan manusia normal dan Vampire yang sejatinya sangat berhasrat untuk meminum darah kekasihnya. Gadis SMA itu bernama Bella Swan dengan Vampir yang berusia SMA bernama Edward Cullen. Cerita berkaitan dengan perang antara Vampire baik dan Vampire Jahat demi memperebutkan darah Bella Swan. Juga dilema cinta yang terjadi antara Edward Cullen dan Bella Swan. Cerita berjalan cukup menarik, tapi durasi Film yang cukup panjang terasa kurang lengkap karena terasa meloncat-loncat ( he.. ternyata kejadian di Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi ternjadi juga di Film yang berbasis Novel ini). Secara keseluruhan sih : Perlu ditonton dan dinikmati.

Film terasa kurang panjang karena Bella Swan tidak perlu banyak bersusah payah untuk mengungkap jari diri Edward Cullen.Film juga terasa kurang panjang karena karakter dan latar belakang Bella dan Edward sebagai tokoh utama kurang tereksplorasi. Jadi kurang emosional. Menonton film ini terasa bukan Film Vampire malah, namun jadi terasa film Superhero layaknya Superman atau Batman. Dan ternyata prasangkaku sebagai salah satu penonton itu ternyata dijawab dalam salah satu adegan dimana Bella Swan ketika akan menebak jatidiri Edward mengatakan : Mungkin sesuatu yang berhubungan dengan Kryptonite ?

The Saman : Dokter Sadis yang Lebih Sadis Kenyataannya


Nonton The Saman di bioskop adalah nonton Film ‘Horor’ Indonesia pertama. Karena prediksiku Film ini bentuk ‘Horor’ nya paling mendekati The X Files (The X Files horor bukan yah…?.. Ya triler lah…..). Ya.. ini karena sebelumnya baca sinopsisnya, ada seorang dokter PTT, lawan ‘dukun’ di pedalaman Kalimantan Timur. ( Di X Files kan Dokter yang agen FBI bersama Cenayang.. ).

Oke…. Film yg gambarnya dibuat rada coklat ini diawali dengan turunnya seorang dokter PTT bernama Ryan di bandara Balikpapan. Karena memang diniati sebagai Film Horor… dari semula kamera nge-shoot sudut sempit kayak di Film Scream. Karena mengikuti belakang kepada Oka Antara (Pemeran Ryan). Nah… ketika adegan Ryan di wastafle bandara mulailah muncul mahluk seram yang bentuknya mirip dalam Scream….(Atau Scarry Movie….) . Yaitu orang dengan Jaket ‘Jumper’ yang mukanya memakai topeng ‘wajah jelek’. Tapi menurutku lebih serem di fil ini dibanding di Scream……. (di scream.. malah lucu menurutku).

Oke….terus..

Film in ceritanya terus masuk ke sebuah kampong di Kalimantan Timur, ceritanya kampong itu adalah kampong bapaknya Ryan.. yang tinggal di Jakarta. Setelah Ryan jadi Dokter..dia PTT nya memilih di kampong asal bapaknya itu. Bahkan rumah (mirip rumah pohon.) keluarga Ryan yang kemudian dipakai tempat tinggalnya.

Sepanjang perjalanan sejak dari bandara hingga sampai kampong yang mesti dilalui memakai mobil, bis air dan kemudian speedboad itu Ryan selalu mendapat kenampakan dari mahluk yang selalu berbisik lirih ‘tolong’. Bahkan ketika Ryan tidur di kamarnya. Alur cerita kemudian bergerak dimana Ryan yang praktek di klinik menemukan keanehan-keanehan dimana setiap penduduk yang berobat ke dukun yang bernama Azis selalu ada luka bekas operasi di pojok kanan perutnya.

Ketegangan demi ketegangan cukup berhasil di tampilkan, ada sosok dukun (mungkin suku Dayak) yang memburu korban, ada sosok kepala desa yang posesif, ada anak kepala desa yang cantik, ada dua teman Ryan yang sok Jakarta. Dan akhirnya benang merah cerita bertemu dengan tenda-tenda camping yang ditemukan mereka.

Setelah ketegangan yang berbau mistis beradu dokter yang skeptis terhadap tahayul menjadi tema konflik, cerita bernjak ke sebuah rumah yang ternyata da bungker di bawahnya. Disitulah di tengah hutan ditemukan adanya rumah yang ada computer dan jaringan internet. Singkat cerita… dukun yang bernama Azis itu ternyata mengoperasi korbannya di ruangan itu. Bahkan ada yang dibantai….termasuk salah satu teman Ryan.. Walaupun ada juga yang mati dengan mengenaskan juga seperti di tenung… mata melotot.. keluar darah….

Dan ternyata Azis itu adalah seorang dokter yang beralih pekerjaan menjadi semacam dukun yang ternyata adalah seorang pemasok jual beli organ tubuh. Disinilah kemiripan dengan The X Files sequel terakhir mirip juga. Namun yang kemudian membuatku tercengang adalah kata-kata terakhir di akhir Film ini.

“Ratusan orang hilang bla bla bla.. sebagai akibat pembunuhan sindikat jual beli organ tubuh baik di dalam negeri dan luar negeri.. dan sekarang masing berlangsung “ (Sorry.. gak mirip.. tapi intinya gitu).

Serem mbayangin kenyataannya dibanding Filmnya….

Loading...